Jumat, 29 Januari 2010

ASWAJA (AHLUSSUNAH WAL JAMAAH)

Soal:
Konsep ASWAJA (Ahlussunah Wal Jamaah) selama ini masih belum difahami secara tuntas, sehingga menjadi “rebutan” setiap golongan. Semua kelompok mengaku dirinya sebagai penganut ajaran ASWAJA. Tidak jarang label itu digunakan untuk kepentingan sesaat. Jadi apakah yang dimaksud dengan ASWAJA itu sebenarnya ?. Bagai mana pula dengan klaim itu apakah dibenarkan ?.
Jawaban:
Aswaja merupakan singkatan dari istilah Ahlussunah Wal Jamaah, ada tiga kata yang membentuk istilah tersebut.
1.      Ahl; berarti keluarga, golongan atau pengikut
2.      Al-Sunnah; yaitu segala sesuatu yang telah diajarkan oleh Rasulullah saw.
3.      Al-Jama’ah; yakni apa yang telah disepakati oleh para sahabat Rasul saw. pada masa Khulafa’urrosyidin (Khalifah Abu Bakar assidiq, Umar bin Khottab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Tholib)
Sebagaimana telah di kemukakan oleh syech Abdul Qodir Aljailani dalam kitabnya, al-Ghunyah li Thalibi Thariq al-Haqq.
Yang dimaksud dengan al-sunnah adalah apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah saw. (meliputi ucapan, perilaku serta ketetapan beliau). Sedangkan pengertian al-Jama’ah adalah segala sesuatu yang telah menjadi kesepakatan sahabat Nabi Muhammad saw. pada masa Khulafa’urrosyidin yang empat yang telah diberi hidayah (mudah-mudahan Allah swt. Member rahmat pada mereka semua). (al-Ghunyah li Thalibi Thariq al-Haqq, Juz I, Hal 80)
Selanjutnya, Syech Abi al-Fadhl bin ‘Abdussyakur menyebutkan dalam kitab al-kawakib al-lamma’ah :
Yang disebut Ahl Asunnah wal jama’ah adalah orang-orang yang selalu berpedoman pada sunah Nabi saw. dan jalan para sahabatnya dalammasalah aqidah keagamaan, amal lahiriyah serta ahlak hati. (al-kawakib al-lamma’ah: Hal 8-9)
Jadi Ahl Asunnah wa Al-Jamaah merupakan ajaran yang mengikuti semua yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw. dan para sahabatnya. Sebagai pembeda dari yang lain, ada tiga ciri khas kelompok ini, yakni tiga sikap yang selalu diajarkan oleh Rasulullah saw. dan para sahabatnya. Ketiga prinsip tersebut tersebut adalah al-Thawassuth (sikap tengah-tengah, sedang-sedang, tidak ekstrim kiri ataupun ekstrim kanan), prinsip al-Tawazun (seimbang dalam segala hal termasuk dalam penggunaan dalil ‘Aqli dan dalil Naqli), dan al-I’tidal (tegak lurus).
Ketiga masalah tersebut dapat dilihat dalam masalah keyakinan keagamaan (teologi), perbuatan lahiriyah (fiqh) serta masalah ahlak yang mengatur gerak hati (tashawwuf). Dalam praktik keseharian, ajaran Ahl Asunnah wa Al-Jamaah dibidang teologi tercerminkan dalam rumusan yag digagas oleh Imam Asy’ari dan Imam Maturidi. Sedangkan dalam masalah perbuatan badaniyah termanifestasikan (terwujud) dengan mengikuti madzhab yang empat, yakni Madzhab Hanafi, Madzhab Maliki, Madzhab Syafi’I, dan Madzhab Hambali. Dalam tashawwuf mengikuti rumusan Imam Junaid al-Baghdadi dan Imam al-Ghazali.
Sebagaimana definisi yang sangat sederhana, yang disenandungkan dalam untaian nadzom (syair) oleh KH. Zainal Abidin Dimyathi :
pengikut Ahl Asunnah wa Al-Jamaah adalah mereka
yang mengikuti madzhab para imam
Dalam masalah usul (akidah) mereka mengikuti
madzhab Imam Asy’ari dan Maturidi
Dalam bidang fiqh mengikuti salah satu madzhab
yang menjadi pemimpin umat ini
Imam Syafi’I, dan Imam Hanafi yang cemerlang
serta Imam Malik dan Imam Ahmad bin Hambal
Dalam bidang tashawwuf atau thariqah
mengikuti ajaran Imam Junaid
(Al-Idza’ah al-Muhimmah, 47)
Salah satu alasan dipilihnya ulama-ulama tersebut oleh Salafuna al-Shalih, sebagai panutan dalam Ahl Asunnah wa Al-Jamaah, karena mereka telah terbukti mampu membawa ajaran-ajaran yang sesuai dengan intisari agama Islam yang telah digariskan oleh Nabi Muhammad saw. dan para sahabatnya. Dan mengikuti hal tersebut merupakan suatu kewajiban bagi umatnya. Nabi Muhammad saw. bersabda:
Dari Abdurrahman bin Amr al-Sulami, sesungguhnya ia mendengar al-Irbadh bin Sariyah berkata, Rasulullah saw. menasehati kami, “kalian wajib berpegang teguh pada sunnahku (apa yang aku ajarkan) dan perilaku al-Khulafa’ al-Rasyidin yang mendapatkan petunjuk” (Musnad Ahmad bin Hanbal, [16519])
Karena itu, sebenarnya Ahl Asunnah wa Al-Jamaah merupakan Islam yang murni sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Muhammmad saw. dan sesuai dengan apa yang telah digariskan dan diamalkan oleh para sahabatnya. Ketika Rasulullah saw. menerangkan bahwa umatnya akan terpecah-pecah menjadi 73 golongan, dengan tegas Nabi Muhammad saw. menyatakan bahwa yang benar adalah mereka yang tetap berpedoman pada apasaja yang diperbuat oleh Nabi Muhammad saw. dan para sahabatnya pada waktu itu (ma’ana ‘alaihi al-yawm wa ashhabi).
Maka, Ahl Asunnah wa Al-Jamaah sesungguhnya bukanlah aliran baru yang muncul sebagai reaksi dari beberapa aliran yang menyimpang dari ajaran hakiki agama Islam. Ahl Asunnah wa Al-Jamaah justru berusaha untuk menjaga agama Islam dari beberapa aliran yang akan mencerabut ajaran Islam dari akan dan pondasinya semula. Semakin aliran-aliran itu semakin merajalela, tentu diperlukan suatu gerakan untuk mensosialisasikan dan mengembangkan kembali ajaran murni Islam. Sekaligus merupakan salah satu jalan untuk mempertahankan, memmemperjuangkan dan mengembalikan agama islam agar sesuai dengan apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah saw. dan dan para sahabat beliau. (Khittah Nahdhliyyah, 19-20).
Jika sekarang banyak kelompok yang mengaku dirinya termasuk Ahl Asunnah wa Al-Jamaah, maka mereka harus membuktikannya dengan praktik keseharian bahwa ia benar-benar telah mengamalkan sunnah Rasulullah saw.dan sahabatnya. Abu Sa’id al-Khadimi berkata:
(jika ada yang bertanya) semua kelompok mengaku dirinya sebagai golongan Ahl Asunnah wa Al-Jamaah. Jawaban kami adalah: bahwa Ahl Asunnah wa Al-Jamaah itu bukan hanya klaim semata, namun harus diwujudkan (diaplikasikan) dalam perbuatan dan ucapan. Pada zaman kita sekarang ini, perwujudan itu dapat dilihat dengan mengikuti apa yang tertera dalam hadist-hadist yang shohih, seperti shahih al-Bukhori, shahih Muslim dan kitab-kitab lain yang telah disepakati validitasnya (Al-Bariqah Syarh al-Thariqah, hal 111-112)
Berdasarkan penjelasan diatas dapat dirumuskan bahwa Ahl Asunnah wa Al-Jamaah merupakan ajaran yang sesuai dengan apa yang telah digariskan oleh Rasulullah saw. dan para sahabatnya. Dan itu tidak bisa hanya sebatas klaim semata, namun harus dibuktikan dalam sikap dan tingkah laku sehari-hari.


www.ucapantahunbaru.blogspot.com