Kamis, 21 Januari 2010

Al Habib Hasan bin Ahmad Baharun


Al Habib Hasan bin Ahmad Baharun, lahir di Sumenep pada tanggal 11 Juni 1934 dan merupakan putra pertama dari empat bersaudara dari Al Habib Ahmad bin Husein dengan Fatmah binti Ahmad Bachabazy. Adapun silsilah dzahabiyah yang mulia dari beliau adalah Al Habib Hasan Bin Ahmad bin Husein bin Tohir bin Umar bin Baharun.

Sejak kecil kedisiplinan dan kesederhanaan telah ditanamkan oleh orang tuanya sehingga mengantarkannya tumbuh menjadi sosok pribadi yang mempunyai akhlak dan sifat yang terpuji.

Pendidikan agama selain diperoleh dari bimbingan orang tuanya, juga beliau dapatkan dari Madrasah Makarimul Akhlaq, Sumenep, dan dari kakeknya dari pihak ibu yang dikenal sebagai ulama besar dan disegani di Kabupaten Sumenep yaitu Ustadz Achmad bin Muhammad Bachabazy. Beliau sering di ajak kakeknya untuk menemani dalam undangan berdakwah. Setelah kakeknya meninggal dunia, beliau belajar ilmu agama dari paman-pamannya yaitu Ustadz Usman bin Ahmad Bachabazy dan Ustadz Umar bin Ahmad Bachabazy. Sewaktu menetap di Surabaya, beliau menjadi murid kesayangan seorang ulama yang faqih (ahli fikih), Habib Umar Baagil. Kepada gurunya ini , beliau banyak memperdalam ilmu fikih.

Semangat belajar Ustadz Hasan Baharun, sejak kecil memang dikenal rajin dan ulet, bahkan apabila bulan Ramadhan tiba, beliau belajar semalam suntuk, mulai sehabis tadarrus (membaca Al Qur'an) sampai menjelang subuh.

Semasa remaja beliau senang berorganisasi, baik remaja masjid ataupun organisasi lainnya, seperti Persatuan Pelajar Islam (PII), bahkan beliau pernah diutus untuk mengikuti Muktamar I PII seluruh Indonesia yang diselenggarakan di Semarang. Dan pernah menjabat Ketua Pandu Fatah Al Islam di Sumenep. Beliau aktif pula di partai politik yaitu Partai NU (Nahdlatul Ulama) dan menjadi juru kampanye yang dikenal berani dan tegas menyampaikan kebenaran. Dan di Pasuruan menjabat sebagai Ketua Majlis Ulama Indonesia ( MUI ) sampai akhir hayat beliau.

Setelah menamatkan sekolah, beliau sering mengikuti ayahnya ke Masalembu, untuk berdakwah sambil membawa barang dagangan. Keluarga Ustadz Hasan pada saat itu, dikenal ramah dan ringan tangan, apabila ada orang yang tidak mampu membayar hutangnya disuruh membayar semampunya, bahkan dibebaskan. Sifat-sifat inilah yang diwarisi beliau yang dikenal apabila berdagang, tidak pernah membawa untung karena senantiasa membebaskan orang-orang yang tidak mampu membayarnya.

Dan pada waktu berkeliling menjajakan dagangan, beliau dikenal suka membantu menyelesaikan permasalahan dan konflik yang terjadi di masyarakat. Berdagang yang beliau lakukan adalah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan dijadikan sarana pendekatan untuk berdakwah kepada masyarakat. Kedermawanan dan belas kasihnya kepada orang yang tidak mampu, menyebabkan dagangannya tidak pernah berkembang karena keuntungannya diberikan kepada masyarakat yang tidak mampu, serta membebaskan orang yang tidak mampu membayarnya.

Selain itu, beliau mempunyai keahlian memotret dan cetak film yang digunakannya sebagai daya tarik dan mengumpulkan massa untuk diberikan pengajaran. Karena untuk pengambilan hasil potret sudah ditentukan waktunya, sehingga apabila mereka yang hendak mengambil hasil cetaknya sudah berkumpul, dan sambil menunggu cetak film selesai, beliau isi waktu tersebut dengan ceramah dan tanya jawab masalah agama.

Pada tahun 1966 beliau merantau ke Pontianak, Kalimantan Barat, berdakwah keluar masuk dari satu desa ke desa yang lainnya dan melewati hutan belantara yang penuh lumpur dan rawa-rawa serta binatang buas dan ular berbisa. Namun dengan penuh kesabaran dan ketabahan, semua itu tidak dianggapnya sebagai rintangan . Dengan penuh kearifan dan bijaksana, dikenalkannya dakwah Islam kepada orang-orang yang masih awam terhadap Islam. Dan alhamdulillah dakwah yang beliau lakukan mendapat sambutan yang cukup baik dari masyarakat ataupun tokoh-tokohnya. Di setiap daerah yang dimasuki untuk berdakwah, beliau senantiasa bersilaturahmi terlebih dahulu kepada tokoh masyarakat dan ulama setempat untuk memberitahu, sekaligus minta izin untuk berdakwah di daerah tersebut. Sehingga dengan budi pekerti, akhlak dan sifat-sifat yang terpuji itulah masyarakat beserta tokohnya banyak yang simpati dan mendukung terhadap dakwah yang beliau lakukan.

Uniknya tiap kali beliau berdakwah, senantiasa membawa seperangkat peralatan pengeras suara (Loudspeaker/Sound System), yang pada saat itu memang masih langka dan sulit dicari di Pontianak. Hal ini dilakukannya agar tidak merepotkan orang yang mengundangnya untuk mencari sewaan pengeras suara.

Dan tak lupa pula beliau membawa satir/tabir sebagai kain pemisah untuk menghindari terjadinya “ikhtilat” (percampuran) antara laki-laki dan perempuan. Beliau berkeyakinan, jika di tempat tersebut terjadi perbuatan maksiat atau dosa, sudah tentu beliau turut berdosa. Dan alasan lainnya akan menghalang-halangi masuknya hidayah Allah swt, sedangkan pahala dakwah itu sendiri belum tentu diterima Allah swt.

Selain berdakwah beliau aktif pula di partai politik yaitu Partai NU (Nahdlatul Ulama) dan menjadi juru kampanye yang dikenal berani dan tegas di dalam menyampaikan kebenaran, sehingga pada saat itu sempat diperiksa dan ditahan. Namun masyarakat akan melakukan demonstrasi besar-besaran apabila beliau tidak segera dikeluarkan dan atas bantuan pamannya sendiri membebaskannya dari tahanan.

Dan tak lama setelah kejadian tersebut, sekitar tahun 1970 atas permintaan dan perintah dari ibundanya, beliau pulang ke Madura dan disuruh untuk berdakwah di Madura atau di Pulau Jawa saja. Namun karena kegigihan beliau selama 2 tahun masih tetap aktif datang ke Pontianak untuk berdakwah walaupun telah menetap di Jawa Timur.

Pada tahun 1972 beliau mengajar di pondok pesantren Gondanglegi Malang, mengembangkan Bahasa Arab, sehingga pondok pesantren Gondanglegi pada saat itu terkenal maju dalam bidang Bahasa Arabnya.

Kemudian beliau mengajar dan mengabdikan diri di pondok pesantren Al Khairiyah di Bondowoso, bersama ustadz Abdullah Abdun dan habib Husein Al Habsy. Pada masa itu beliau juga di minta oleh habib Husein Al Habsy untuk mengajar di pondok pesantren Yayasan Pendidikan Islam (YAPI), yang baru di rintis Habib Husein. Selain itu beliau juga pernah mengajar di pondok pesantren Sidogiri di Pasuruan, pondok pesantren Salafiyah Syafi’iyah Asembagus di Situbondo, pondok pesantren Langitan di Tuban.

Ke Atas



Sejarah pendirian pondok pesantren dan perkembangannya

Pondok pesantren Darul Lughah Wad Da’wah (Dalwa) didirikan pada tahun 1981 di Bangil, dengan menempati sebuah rumah kontrakan. Dengan penuh ketelatenan dan kesabaran Ustadz Hasan Baharun mengasuh dan mendidik para santri, sehingga mendapat kepercayaan dari masyarakat dan dalam waktu yang relatif singkat jumlah santri berkembang dengan pesat.

[Gapura pesantren] [Pintu gerbang] [Masjid pesantren]

Selain membina santri putra, pada tahun 1983 pondok pesantren ini menerima santri putri yang berjumlah 16 orang yang bertempat di daerah yang sama. Dan pada tahun 1984 lokal pemondokan santri menempati sampai sebanyak 13 rumah kontrakan.

Atas petunjuk Musyrif Ma’had Darullughah Wadda’wah Abuya Sayyid Muhammad Alwi Al-Maliki Al-Hasani, pada tahun 1985 pondok pesantren Darullughah Wadda’wah dipindah ke Desa Raci.

Kesuksesan Ustadz Hasan Baharun dalam berdakwah dan membangun pondok pesantren Darullughah Wad Da’wah tidak lepas dari peran besar dari seorang wanita salihah, yang sudah terdidik dan terlatih kesabaran, kegigihan serta ketegarannya dalam menghadapi kehidupan oleh ayahandanya Al-Habib Muhammad Al-Hinduan. Beliau adalah Syarifah Khodijah binti Muhammad Al-Hinduan, istri tercinta yang senantiasa dengan penuh ketabahan dan kesabaran mendampingi dalam pahitnya perjuangan, serta senantiasa memberikan semangat bagi sang suami. Bahkan jiwa besar dan perjuangannya ditunjukkan oleh ustadzah, ketika Ustadz Hasan membutuhkan dana untuk pondok pesantren, maka ustadzah dengan senang hati, menjual seluruh barang-barang berharga dan semua perhiasan yang dimilikinya, bahkan yang mengandung kenangan dan sejarah dijualnya pula.

Dan pada tahun 2006 dibuka pondok pesantren II Darullughah Wadda’wah yang berlokasi di Desa Pandean, Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan, Jawa timur.

Ke Atas



Pemikiran dan Konsep-konsep Pendidikan Ustadz Hasan Baharun

Secara singkat akan diuraikan beberapa pemikiran dan konsep-konsep pendidikan yang beliau jalankan dalam mengelola lembaga pendidikan dan pondok pesantren antara lain.

Apabila seorang kiyai sudah mendirikan pondok pesantren, maka dia harus rela meninggalkan semua aktifitas dan hobinya yang ada diluar pondok pesantren, yang dapat mengganggu konsentrasinya dalam membina santri. Beliau mengibaratkan seorang pengasuh pondok pesantren sebagai induk ayam yang sedang mengerami telur, maka apabila sering meninggalkan sarangnya kemungkinan besar telur tersebut tidak jadi menetas, dan telur tersebut akan busuk.
Untuk mendirikan pondok pesantren harus dijiwai dengan ikhlas dan guru-guru yang akan mengajar harus diseleksi tingkat ikhlas-nya, sehingga tidak akan menularkan kepada santri, ilmu yang tidak ikhlas dan seterusnya. “Dan apabila diniatkan dengan hati yang ikhlas maka pondok pesantren tidak usah khawatir akan datangnya murid sebab Allah akan mengumumkan kepada para malaikat untuk menanamkan kemantapan pada kaum muslimin.” Begitu jawaban Ustadz Hasan ketika ditanya sistem promosi apa yang dipakainya, sehingga sangat cepat perkembangan santri-nya dan berasal dari berbagai propinsi bahkan dari beberapa negara tetangga.
Sasaran yang diutamakan dan mendapat perhatian khusus dari beliau adalah :
Putra para kiyai dan habaib, khususnya yang mempunyai pondok pesantren dan majelis ta’lim, hal ini dilakukan karena mereka sudah jelas ditunggu oleh umat dan sebagai proses pengkaderan, agar mereka bisa menjadi penerus orang tua mereka memimpin pondok pesantren.
Putra-putra daerah yang disana jarang ada ulama/kiyai/ustadz, sehingga diharapkan nanti bisa pulang kembali untuk berdakwah menyebarkan Islam dan merintis lembaga pendidikan/majelis ta’lim.
Putra aghniya, yang dengan masuknya putra mereka di pondok pesantren dengan beberapa pertimbangan yaitu diharapkan perhatiannya terhadap Islam/pondok pesantren lebih besar dan sebagai perantara masuknya dakwah kepada orang tua mereka, menyelamatkan harta mereka, serta sebagai bentuk subsidi silang terhadap santri yang tidak mampu.
Putra-putri dari orang-orang yang pernah berjasa dalam perintisan pondok pesantren.

Ke Atas



Sifat-Sifat Dan Kisah-Kisah Keteladanan Ustadz Hasan Baharun

Beberapa sifat menonjol Ustadz Hasan yang sudah sangat di kenal oleh kalangan santri, dan guru-guru, kalangan habaib dan masyarakat yang sering berkomunikasi dengannya sebagai seorang figur ulama pewaris nabi. Beliau betul-betul mewarisi sifat-sifat dan sikap perjuangan kakeknya Nabi Muhammad saw. Dan Agar lebih jelas akan dipaparkan sifat-sifat tersebut serta contoh-contoh sebagian peristiwa dari kehidupan beliau, sehingga kita dapat meniru sifat dan sikap keteladanannya yang senantiasa ditanamkan bagi santri-santrinya adalah sebagai berikut :

Sabar
[Perpustakaan]

Salah satu sifat yang menonjol pada diri beliau adalah sifat sabar. Kesabarannya sangat dikenal oleh semua kalangan, baik santri, dewan guru, pejabat dan orang-orang yang mengenalnya, sebagaimana kesaksian dan cerita yang dilukiskan oleh ayahandanya Al-Habib Ahmad bin Husein Baharun pada waktu beliau meninggal dunia,“Hasan itu sangat sabar, kalau saya marahi walaupun dia tidak salah tidak pernah menjawab dan apabila difitnah dan diganggu orang tidak pernah membalas dan menceritakannya pada saya agar didoakan, sehingga diberikan kekuatan dan kesabaran dalam menghadapi cobaan dan fitnahan tersebut.“ Kesabarannya sulit dilukiskan, baik dalam membina dan membimbing santri serta menghadapi kenakalan santri dan orang-orang yang mengganggu pondok pesantren.

Ustadz Hasan dalam menghadapi orang-orang yang memfitnah dan mengganggu pondok pesantren, justru mereka diberi hadiah dan berulang kali, bahkan membantu urusan mereka seakan-akan tidak tahu bahwa orang tersebut mengganggunya.

Suatu kisah sekitar tahun 1998 ada orang datang memberi tahu kepada beliau, bahwa dia akan membawa orang, sebanyak 2-3 truk, untuk menghancurkan rumah orang yang mengganggu pondok pesantren, namun beliau malah mencegahnya karena hal itu tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah saw.

Istiqomah (terus menerus)
[Senam pagi]

Sifat Istiqomah Ustadz Hasan Baharun sudah tidak diragukan, salah satu tanda dari sifat tersebut tercermin pada aktifitas beliau sehari-hari. Beliau bangun setiap pukul 02.00 malam, kemudian "Qiyamullail" (shalat malam) dan membangunkan santri pada pukul 03.00 malam. Bahkan untuk menjaga keistiqomahan tersebut, beliau mewajibkan santri yang menjaga malam di pintu gerbang untuk membangunkan tepat pukul 02.00 malam dan di pos jaga tersebut tertulis, diantara tugas/kewajiban penjaga malam, wajib membangunkan Ustadz Hasan tepat pada pukul 02. 00 ( tidak boleh lebih atau kurang ).

Suatu ketika beliau datang dari Mekah / Timur Tengah, namun mampir di Jakarta karena masih ada urusan yang harus diselesaikan dan bermalam di salah satu rumah wali santri di Bekasi (di rumah Haji Yusuf) dan tampak tanda-tanda bahwa beliau dalam keadaan sangat lelah, maka untuk menjaga agar beliau tidak terlambat bangun, beliau berpesan kepada H. Yusuf untuk membangunkannya pada pukul 02.00 dan tidak cukup itu saja, beliau menelpon ke santri yang bertugas di pos jaga agar mengingatkan H. Yusuf sebelum jam 02.00 untuk membangunkan Ust. Hasan. Begitulah salah satu contoh kesungguhan beliau dalam menjaga keistiqomahan tersebut.

Tawakkal

Ustadz Hasan mempunyai jiwa tawakal yang luar biasa sebagai suatu gambaran dari sifat tawakal beliau adalah bahwa ketika beliau mempunyai rencana untuk membangun gedung asrama santri berlantai tiga, pada waktu awal terjadinya krisis moneter dengan dana awal sekitar lima juta rupiah dan ketika sahabatnya datang ke pondok pesantren, beliau mengungkapkan rencana tersebut barangkali bisa membantu, namun orang tersebut justru bertanya dengan nada terheran-heran: “Ya Ustadz, bagaimana dengan dana yang sedikit itu antum akan membangun bangunan sebesar itu? Apalagi sekarang Indonesia dalam krisis moneter!” Kemudian apa kata beliau, “Ya Ustadz, yang krisis itu kan Indonesia, negara lain kan tidak! Apalagi Allah, apakah Allah kenal krisis moneter?” Sebuah umpan balik dan argumen yang luar biasa, kemudian beliau melanjutkan kata-katanya, “Kalau kita punya rencana maka kita jangan sekali-kali mengukur dengan kemampuan kita, apabila kita mengukur dengan kemampuan kita, maka hasilnya Allah akan memberikan sesuai dengan kemampuan kita, tetapi apabila kita mengukur dengan kemampuan Allah, maka kemampuannya tiada terbatas dan yakinlah bahwa selama kita berniat memperjuangkan agama Allah, maka Allah akan menolong kita,” Inilah diplomasi yang menggambarkan betapa tingginya tingkat tawakal beliau.

Bahkan apabila beliau mau membangun, justru menghabiskan segala uang yang tersisa dan membagikan kepada fakir miskin sebagi pancingan datangnya rahmat dan pemberian Allah. Beliau mengibaratkan orang mancing, maka apabila pancing dan umpannya besar maka akan memperoleh ikan yang besar pula. Hal ini sering diungkapkan pula ketika ada panitia pembangunan masjid dan Lembaga Pendidikan Islam, bahwa apabila berniat ingin membangun, maka disarankan tidak perlu khawatir pembangunan tersebut tidak selesai dan menyuruhnya membongkar/ memulai pembangunan tersebut tanpa menunggu terkumpulnya dana untuk pembangunan, karena pembangunan masjid dan LPI tersebut merupakan proyek Allah swt, dan Insya-Allah pasti selesai, tinggal menata niat panitia serta berusaha semaksimal mungkin sebagai ketentuan Allah dan harus disertai dengan banyak berdoa.” Begitulah saran-saran beliau kepada para tamu dan panitia yang datang minta saran dan sumbangan kepada beliau.

Dermawan dan Sangat Perhatian terhadap Fakir Miskin dan Anak Yatim

Kedermawanan yang ada pada beliau, tumbuh dan berkembang sejak kecil. karena hal tersebut sudah ditanamkan oleh ayah dan kakeknya sebagaimana kisah-kisah sebelumya sehingga beliau tumbuh dan berkembang mempunyai jiwa sosial, terutama memiliki kepedulian kepada para fakir-miskin dan anak yatim. Bentuk kepedulian terhadap mereka diantaranya adalah bahwa kebiasaan beliau membagikan hadiah pakaian hari raya, beras dan kebutuhan sehari-hari, membagikan daging kurban kepada para tetangga pondok pesantren, familinya yang tidak mampu, serta kepada orang-orang yang datang minta bantuan, mulai pengobatan sampai pada biaya sekolah anak-anak mereka kepada orang yang tidak mampu.

Ikhlas

Sebagaimana sering diungkapkan olehnya dalam menasehati para santri dan para guru, agar senantiasa menata niat dalam setiap tindakan dan amal yang akan dilakukan. Hal ini merupakan cerminan dari kepribadian beliau yang senantiasa menjadikan keikhlasan sebagai pondasi dari setiap amal yang beliau laksanakan, termasuk pendirian pondok pesantren. Sebagai sebuah bukti dari keikhlasan beliau ketika ada guru-guru yang mengusulkan agar membuat papan nama pondok di tepi jalan beliau tidak langsung mengabulkan permintaan tersebut. Namun karena beberapa kali guru-guru tetap mengusulkan dengan alasan, banyak wali santri yang tidak tahu lokasi pondok pesantren dan sering kesasar dan bingung mencari alamat pondok, kemudian hal tersebut dikabulkan tiga tahun sebelum beliau wafat.

Demikian pula dalam rekrutmen/seleksi guru-guru, maka yang pertama kali dilihat adalah ikhlasa. Para guru baru yang mau mengajar di pondok pesantren, diuji tingkat ikhlas-nya, bahkan beliau tidak memperhatikan selama satu tahun. Karena beliau berpendapat bahwa apabila gurunya tidak ikhlas, akan menularkan ilmu yang tidak ikhlas pula.

Tawadhu (rendah hati)
[Mushola di pondok putri]

Walaupun beliau sebagai ulama besar yang dihormati dan disegani, baik di dalam maupun di luar negeri, dan kebesaran beliau diakui oleh Sayyid Muhammad Al Maliki, sehingga pada waktu beliau datang ke Mekah di majelis ta'lim Sayyid Muhammad diberikan kesempatan untuk memberikan sambutan / tausiyah pada jamaah haji dan para ulama sedunia yang berkumpul di majelis tersebut, dan juga dalam acara haul Nabiyullah Nuh AS di Yaman beliau senantiasa mengelak ketika diminta untuk memberikan sambutan, tetapi pada kunjungan yang terakhir beliau mau memberikan sambutan namun tetap dengan sikap rendah hati. Beliau mengatakan bahwa tidak bermaksud memberikan nasehat kepada yang hadir yang kebanyakan terdiri dari para ulama dan auliya’, tetapi nasehat tersebut ditujukan untuk santri beliau yang belajar di sana.

Beliau senantiasa menunjukkan sikap rendah hati dalam kehidupan sehari-hari dan sama sekali tidak menunjukkan bahwa beliau adalah orang besar. Siapapun tamu yang datang dilayani dengan ramah, bahkan apabila menyajikan makanan, beliau sering mengangkat sendiri sajian makanan dari dapur dan menyuguhkan-nya kepada para tamu.

Diantara doa yang menunjukkan sikap dan sifat rendah hati tersebut, dengan senantiasa memanjatkan doa agar beliau dan putra-putra serta murid-muridnya dijadikan orang-orang yang memiliki kebesaran tetapi tersembunyi (minal masturiin).

Kesederhanaan Pribadi Ustadz Hasan

Apabila orang bertemu dengan Ustadz Hasan Baharun dan orang tersebut sebelumnya belum mengenal beliau, maka orang tersebut tidak akan menyangka bahwa beliau adalah ulama besar yang sangat dihormati dan disegani, karena beliau memang mempunyai penampilan yang sangat sederhana, pakaian yang dipakai sehari-hari di dalam pondok dan ketika keluar pondok biasa saja yaitu memakai gamis/jubah, dan kopyah putih tanpa imamah dan ridha, kecuali apabila beliau akan menyampaikan ceramah atau menghadiri majelis pertemuan yang harus menampilkan sebagai sosok, untuk menjaga kehormatan dan kebesaran serta kewibawaan ulama. Maka beliau akan berpakain lengkap dengan jubah kebesarannya.

Selain kesederhanaan dalam berpakaian beliau juga memiliki kesederhanaan dalam pola kehidupan sehari-hari, banyak orang yang tertarik dan menaruh simpati kepada beliau ketika membandingkan fasilitas pondok pesantren yang serba lengkap dan baik, dengan rumah beliau yang atapnya rusak dan sering bocor karena tidak sempat untuk diperbaiki, serta perabot rumah tangga yang semuanya serba biasa-biasa saja, hal ini sudah menjadi pilihannya yang lebih terkonsentrasi memikirkan bagaimana memenuhi fasilitas santri.

Hubungan Ustadz Hasan dengan Yaman

“Ustadz Hasan adalah orang pertama yang membuka kembali hubungan antara Yaman dan Indonesia setelah terputus puluhan tahun lamanya dan beliau yang mulai mengirimkan santrinya untuk belajar di Yaman sehingga semua pahala orang yang belajar ke Yaman akan kembali pahalanya kepada Al-Alim Al-Allamah Adda’i Ilallah Al-Ustadz Hasan Baharun.” Demikian penuturan Habib Umar Bin hafidz di depan para santri dan ulama dalam ziarahnya di pondok pesantren Dalwa, Bangil, 2 tahun setelah wafatnya Ustadz Hasan.

Sebelum masa itu, sejumlah pelajar dari Indonesia memang sudah ada yang menuntut ilmu ke Rubath Tarim, tetapi tidak dalam sebuah koordinasi seperti saat ini. Maka kemudian pada tahun 1994, sekitar 30 pelajar Indonesia berangkat ke Kota Tarim sebagai angkatan pertama murid dari Habib Umar bin Hafidz.
Makam Habib Hasan

Kini seluruh anak-anaknya bergerak di bidang ilmu dan tetap bersatu dalam melanjutkan dakwah sang ayah.

Pada tanggal 23 Mei 1999 M bertepatan tanggal 8 Shafar 1420 H beliau meninggal dunia, dan kemudian pondok pesantren Dalwa dilanjutkan kepemimpinannya oleh putra tertua beliau yaitu Habib Ali Zainal Abidin, dibantu adik-adiknya.

Masih terdengar dalam ingatan mereka nasihat dari sang ayah,”Saya ini punya penyakit jantung, jadi harus “ngebut”. Sekarang bukan waktunya beristirahat, sekarang waktunya berjuang. Kalau sudah di kuburan nanti, itu baru beristirahat. Oleh sebab itu, untuk sekarang jangan pernah istirahat.

Sumber: PP Dalwa, Bangil

www.ucapantahunbaru.blogspot.com