Jumat, 22 Januari 2010

Jendela Cak Jahlun

Humor adalah salah satu jendela untuk melongok kondisi dan budaya masyarakat.

Diantara yang paling terkenal dari humor-humor Rusia era Soviet adalah kisah tentang sebuah keluarga yang menggigil ketakutan ketika ada yang mengetuk pintu malam-malam.

“Siapa?” si empunya rumah bertanya dengan gemetar.

“Malaikat Maut!”

Seisi rumah pun lega luar biasa.

“Syukurlah!” pintu dibukakan dengan riang, “kami kira KGB…”

KGB –seperti kita ketahui—adalah dinas rahasia milik Pemerintah Uni Soviet yang amat terkenal kekejamannya.

Di Inggris pada masa-masa menjelang Perang Dunia II, berlangsung kompetisi politik yang panas. Winston Churchill dari Partai Konserfatif ngotot dengan “peran Pemerintah untuk menjamin pasar bebas“. Sedangkan lawannya dari Partai Buruh yang liberal, Clement Atlee, menggembar-gemborkan nasionalisasi industri besar.

Maka lahirlah sebuah humor. Suatu ketika, di sela-sela perdebatan yang panas di parlemen, Churchill bersirobok dengan Atlee di toilet dan terpaksa harus pipis bersebelahan. Ditengah “kegiatan bersama” itu, Atlee kedapatan melirik-lirik ke arah Churchil agak kebawah sedikit. Churchill pun berang,

“Jangan melirik-lirik!” bentaknya, dilanjutkan dengan gerutuan, “kamu ini sukanya menasionalisasi yang besar-besar….”

Gus Dur pernah menciptakan –atau mengadaptasi—sebuah humor era Soeharto. Alkisah, Soeharto hanyut di sungai sampai hampir mati tenggelam. Seorang tukang mancing menolongnya. Dan Soeharto pun amat sangat berterimakasih.

“Mintalah apa saja, aku akan memberimu”.

“Sudahlah. Aku tak punya pamrih apa-apa”, tukang mancing itu ternyata ikhlas sekali.

“Mintalah! Aku pasti bisa memenuhinya!”

“Jangan sombong. Kamu bukan Tuhan!”

“Tahukah kau, siapa aku?”

“Memangnya kamu siapa?”

“Aku ini Soeharto. Presiden Republik Indonesia!”

Tukang mancing mendadak ketakutan. Gemetaran ia tengok kiri-kanan.

“Sssttt…” akhirnya ia berbisik dengan khawatir sekali, “jangan bilang siapa-siapa kalau aku yang menolongmu ya…”

Para pemerhati dagelan tradisional Jawa tentu bisa menandai perbedaan gaya antara ludruk (Jawa Timur) dan dagelan Mataram (Yogya) yang mencerminkan perbedaan budaya. Ludruk cenderung blak-blakan dan egaliter, dagelan Mataram penuh sindiran dan “hirarkis”.

Kartolo terang-terangan meledek Mariyam alias Karjo AC-DC,

“Wong wédok gêdhéné sak buto!” (Perempuan segede raksasa!)

“Sing dadi lak dudu gêdhéné sé, Lo!” (Yang berlaku ‘kan bukan besarnya, Lo!) Jawab Mariyam.

“Lha… apané?”

“Solahé!” (Solah-bawanya!)

Lain halnya Basiyo, yang meledek lawan mainnya dengan sindiran,

“Kulá niku butuh indhên… grobak kulá tugêl. Gandhèng pun mbotên wontên sing dodol… sampéyan mawon nápá? Samang’ niku seminggu rak dèrèng putung tá?” (Saya ini butuh pasak as roda [indhên]… gerobak saya patah. Karena sudah nggak ada yang jualan… bagaimana kalau sampeyan saja? Sampeyan itu seminggu ‘gitu belum patah ‘kan?)

Ledekan itu diungkapkan dengan krámá inggil (bahasa Jawa halus).

Dalam konteks kejendelaan itulah, saya kira, buku “Guyon Bareng Cak Jahlun” ini hadir. Tema-tema yang diangkat dalam kisah-kisah humornya menggambarkan kehidupan pesantren yang –karena keunikannya—oleh Gus Dur dijelaskan dengan terma “subkultur”. Jarak antara gaya hidup di lingkungan pesantren dengan arus utama gaya hidup masyarakat pada umumnya, sudah menjadi sumber inspirasi humor yang tak ada habis-habisnya. Dalam buku ini bertebaran kisah-kisah lucu tentang kesalahpahaman santri baru terhadap hal-hal yang khas pesantren, dan sebaliknya, “salipan” antara logika pesantren dan “logika populer”. Kesenjangan-kesenjangan semacam itu selama ini menjadi modal utama para pelawak untuk mengocok perut audiensnya.

Lebih menarik lagi, dalam buku ini kita temui pula jejak-jejak satu unsur utama dalam pola pikir pesantren, yaitu permainan logika itu sendiri. Lihatlah, misalnya, dialog antara Cak Jahlun yang memeriksakan diri karena terkena muntaber dengan dokternya:

“Buang air besarnya bagaimana?” tanya dokter.

“Seperti biasa, Dok: jongkok!”

Itu adalah jawaban yang sangat logis. Bahwa itu bukan jawaban yang diharapkan Pak Dokter, “logika pertanyaan” Pak Dokter-lah yang tidak tepat.

Dari mana asal-usul permainan logika itu?

Saya kira dari salah satu mata pelajaran utama di pesantren, yaitu nahwu-shorof (gramatika bahasa Arab). Bahasa Arab adalah bahasa yang sangat rigid dengan logika. Sebagian ahli menuduh Imam Syafi’i dalam menyusun ushul fiqihnya dipengaruhi oleh logika Aristotelian. Padahal belum tentu begitu. Basis logika yang kuat dalam ijtihad Iman Syafi’i saya kira lebih dipengaruhi keahlian beliau dalam bahasa Arab. Berbagai riwayat menyebutkan bahwa beliau telah menjadi salah seorang yang paling ahli dalam bahasa dan sastra Arab pada jamannya, sejak sebelum beliau mendalami fiqih syari’at itu sendiri. Cara berpikir serba logika itulah yang kemudian tertransmisi kedalam dunia pesantren, baik melalui pengajaran bahasa Arab maupun karya-karya fiqih dari madzhab Syafi’i.

Diatas segalanya, nama “Cak Jahlun” sebagai tokoh utama buku ini dipilih dengan cerdik sekali. Saya menduga, pilihan itu ditetapkan melalui suatu pemikiran yang mendalam. “Jahlun” (bahasa Arab) artinya “bodoh”. Ini mewakili etos kependidikan di Pesantren: bahwa menuntut ilmu itu harus diniyati untuk “menghilangkan kebodohan”, persis berbarengan dengan kesadaran bahwa kebodohan itu tidak mungkin hilang karena, semakin orang bertambah ilmunya, maka semakin ia merasa bodoh. Kontradiksi filosofis dalam etos ini mendalam sekali maknanya, sebagaimana berbagai kontradiksi lain yang menjadi “soko-guru” dalam ajaran tasawwuf: ikhtiar-takdir, roja’-khouf, ni’mat-mushibah, shabar-syukur, dan seterusnya.

Akhirul kalam, selamat membaca, selamat belajar, selamat berjuang menghilangkan kebodohan untuk menjadi lebih bodoh lagi, dan… selamat tertawa!



Rembang, 6 April 2011
by KH.Yahya Cholil Tsaquf

www.ucapantahunbaru.blogspot.com