Selasa, 19 Januari 2010

Beranda » SHOHIBUL FADHILAH AS-SAYYID AL-HABIB MUHAMMAD BIN ALWI SHAHAB

SHOHIBUL FADHILAH AS-SAYYID AL-HABIB MUHAMMAD BIN ALWI SHAHAB

Usianya masih terbilang muda, namun Sayid Muhammad bin Alwy Syahab ini gigih berdakwah di kawasan Jakarta Selatan. Majelis Taklim Wat Tadzkir Al Yusrain yang dipimpinnya banyak diikuti oleh kalangan anak muda

Putra ketujuh dari 9 bersaudara Habib Alwy Syahab ini dilahirkan di Palembang 19 Maret 1981. Usianya memang terbilang masih muda, namun Sayid Muhammad ini hampir selama lima tahun terakhir ini membina Majelis Taklim Al-Yusrain Cabang Jakarta Selatan dan sekaligus menjadi wakil ketua umum Majelis Taklim Wat Tadzkir Al Yusrain. Hampir sudah lima tahun terakhir ini ia mengelola majelis taklim yang banyak diikuti oleh anak-anak muda di kawasan Jakarta Selatan.

Tantangannya berdakwah di Jakarta Selatan, selalu ada. Apalagi area Jakarta Selatan mulai dari Buncit, Pomad, Manggarai, Buncit, Duren Tiga, Kalibata, Pejaten, Kebagusan, Depok. “Tantangan orang sekarang sebenarnya hanya sebatas di omongan saja. Ibaratnya tantangan itu hanya mau menjatuhkan semangat untuk berdakwah. Tapi itu justru semakin memicu atau cambukan semangat hati saya untuk berdakwah,” katanya.

Dicontohkan, kalau majelis taklim di Jakarta ini tergantung dari jumlah jamaahnya di mana kalau jamaahnya lebih ramai atau banyak, itu yang disukai oleh jamaah. Tapi baginya, majelis taklim yang dikelola sebenarnya lebih menekankan untuk bertaklim dan bertadkir mengenai ilmu. ”Ini dimaksudkan agar tidak saja mendapatkan ilmu saja, tapi juga bisa bermanfaat bagi kehidupan di dunia dan akhirat.”


Jadwal Majelis Taklim Wat Tadzkir di cabang Jakarta Selatan sebenarnya berlangsung harian dan berpindah-pindah tempat dimulai tiap habis shalat Isya. Adapun materi pelajarannya meliputi tafsir, tarikh, fiqh, tasawuf. Kitab yang dipakai diantaranya mengkaji kitab Al-Anwarul Muhammadiyah (karya As-Syekh Yusuf bin Ismail An-Nabhani), As-Syifa (karya Imam Qadhi Iyadh) dan lain-lain. Setiap minggu seluruh jamaah di kumpulkan di Jl H Samali Kalibata, Jakarta Selatan dengan membaca wirid Dalailul Khairaat. Khusus di bulan Maulid, majelisnya mengadakan 100 hari peringatan maulid yang digelar sejak pertengahan bulan Maret yang lalu dan diperkirakan akan berakhir pada 29 Juni 2007 mendatang.

Pendidikan agama dari Sayid Muhammad selain diperoleh dari kedua orang tuanya sejak kecil. Ia kemudian masuk ke sekolah Madrasah Ibtidaiyah Adabiyah, Delapan Ilir, Palembang dan lulus pada tahun 1992. Selain sekolah di pendidikan umum, ia juga masuk ke sekolah diniyah pada madrasah yang sama, yang banyak memuat pendidikan agama Islam pada sore harinya.


Selama masih sekolah diniyah ia juga memperdalam ilmu agama pada ulama-ulama yang ada di Palembang. Salah satunya adalah dengan mengikuti taklim dari Habib Umar bin Abdul Aziz, Habib Novel Al-Kaff, Habib Umar bin Syahab. ”Yang paling berkesan dari Habib Umar bin Abdullah Syahab adalah pesannya kepada saya yakni untuk mengejar tujuan hidup.’Kejarlah tujuan hidup itu dunia dan akhirat’.”

Karena itulah, ia banyak belajar dengan sungguh dan sekolah Tsanawiyah dan SMA di tamatkan di Palembang. Ia juga bertaklim pada sahabat terdekat dari Habib Umar bin Abdullah Syahab yakni Habib Muhammad bin Abdullah Al-Habsyi di rumahnya. Ia menyempatkan selama tiga hari dalam satu minggu belajar mulai dari fiqh (safinatul najah), tarikh, tasawuf, dan lain-lain.

Setelah dirasa cukup menimba ilmu agama di Palembang, pada saat itu sebenarnya ia mengalami kebimbangan, akan masuk ke akademis (universitas atau mahad). Ia kemudian bertanya kepada gurunya yakni Habib Muhammad Al-Habsyi. Ternyata Sayid Muhammad mendapat dukungan penuh untuk meneruskan ke mahad (Pesantren) Darul Hadits, Malang, Jawa Timur.


Ia kemudian masuk Darul Hadits mulai tahun 1998 sampai 2002 di bawah bimbigan Habib Abdurrahman bin Abdullah Bilfagih. Selepas dari Darul Hadits, ia sempat mau melanjutkan ke Hadramaut. Kebetulan, adiknya sedang menempuh pendidikan taklim di Darul Musthofa, Tarim Hadramaut. Maka sebelum berangkat ke Hadramaut, ia sempat bertanya pada adik yang ada di Hadramaut untuk bisa dilihat bagaimana masa depan pendidikannya di sana.

Sang adik, Syarifah Aluya kemudian bertanya kepada Habib Abdullah bin Muhammad bin Alwy bin Idrus bin Syahab.Ternyata Mufti Hadramaut sekarang itu bukan memberikan jawaban, tapi langsung memberi ijazah dan imamah yang biasa didapat di taklim Darul Musthofa. Habib Abdullah bin Muhammad Syahab kemudian berpesan:

”Bilang kepada kakak kamu. tak usah ke Hadramaut lagi. Cukup taklim di Indonesia dan mulailah berdakwah’.”

Setelah mendapat pesan dari sang adik, Sayid Muhammad Syahab kemudian pada tahun 2002 itu juga ke Jakarta dan bertemu dengan salah seorang gurunya di Palembang sekaligursmursyid dan murobby beliau yakni Habib Muhammad Rafiq bin Luqman Al-Kaff Gathmyr.

www.ucapantahunbaru.blogspot.com

Diberdayakan oleh Blogger.